<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>:: LEMBAGA PERS MAHASISWA JURNAL KAMPUS - FE UNLAM :: &#187; kopral</title>
	<atom:link href="http://www.jurnalkampus.org/author/gunawan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.jurnalkampus.org</link>
	<description>Jl. Brigjend Hasan Basri Fakultas Ekonomi Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin. Telp (0511) 3305116 (ext) 124</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Feb 2012 02:57:30 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Standar Kelulusan Memicu Divestasi Masa Depan</title>
		<link>http://www.jurnalkampus.org/standar-kelulusan-memicu-divestasi-masa-depan/</link>
		<comments>http://www.jurnalkampus.org/standar-kelulusan-memicu-divestasi-masa-depan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 May 2010 12:00:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kopral</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalkampus.org/?p=796</guid>
		<description><![CDATA[NIAT pemerintah untuk memajukan kualitas pendidikan bangsa perlu diacungi jempol. Pasalnya, usaha untuk membuat kebijakan yang lebih baik telah dirumuskan dan dilaksanakan dengan harapan terjadi perbaikan. Anggaran pendidikan pun ditambah menjadi seperlima dari APBN untuk mencapai target. Akan tetapi, harapan terkadang tidak seindah yang ada di lapangan. Faktanya, UN yang berjalan sampai saat ini masih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="center"><img src="http://img2.pict.com/4f/42/b0/3491299/0/w3qfbeowko.jpg"></div>
<p><b>NIAT</b> pemerintah untuk memajukan kualitas pendidikan bangsa perlu diacungi jempol. Pasalnya, usaha untuk membuat kebijakan yang lebih baik telah dirumuskan dan dilaksanakan dengan harapan terjadi perbaikan.</p>
<p>Anggaran pendidikan pun ditambah menjadi seperlima dari APBN untuk mencapai target. Akan tetapi, harapan terkadang tidak seindah yang ada di lapangan. Faktanya, UN yang berjalan sampai saat ini masih harus menempuh upaya perbaikan untuk mendapatkan format yang ideal. Hal ini menjadi PR bersama, terutama pemerintah selaku regulator yang membuat sistem pendidikan dapat berjalan dengan baik.<br />
<span id="more-796"></span></p>
<p>Penerapan standar kelulusan sudah berlaku sejak lima tahun lalu. Dengan standar nilai kelulusan yang lebih tinggi, pemerintah berharap peserta didik termasuk guru mampu meningkatkan kualitas pendidikan. Pendekatan yang dilakukan tersebut kiranya menemui sebuah dilema dengan kenyataanyangada. Di satu sisi pemerintah meningkatkan tingkat kelulusan dengan harapan terjadi perbaikan.</p>
<p>Namun, di sisi lain semakin banyak peserta didik yang tidak lulus karena beban yang mereka terima meningkat. Sekilas penerapan standar kelulusan yang meningkat berkorelasi positif dengan perbaikan pendidikan. Tidak seorang pun berani menjamin hal tersebut, jika implementasi yang dijalankan masih sama dengan sebelumnya. Justru penerapan berbasis standar nilai kelulusan, akan menciptakan potensi pragmatisme dalam pendidikan.</p>
<p>Artinya, sumber daya dalam pendidikan terarahkan untuk mencapai minimum standar kelulusan, alias yang penting lulus,bagaimanapun caranya. Nama sekolah dapat tercoreng jika jumlah siswanya banyak yang tidak lulus. Melihat perkembangan penerapan standar kelulusan, pemerintah harus melakukan banyak evaluasi, terutama mencari faktor yang menyebabkan imbas yang kurang baik bagi pendidikan.</p>
<p>Jika melihat ke masa lalu, saat faktor kelulusan ditentukan oleh sekolah, tidak banyak kejadian terjadi seperti kasus baru-baru ini.Mungkin pemerintah bisa mengadopsi sistem yang pernah dijalankan sebelumnya dengan beberapa penyesuaian dengan kondisi saat ini. Selain memperhatikan standar nilai yang ditentukan oleh sekolah, faktor kelulusan di masa lalu juga memperhatikan aspek perilaku dan moral.</p>
<p>Memang tidak mudah menentukan sistem pendidikan yang terbaik, akan tetapi kita bisa becermin dari esensi pendidikan itu sendiri. Pendidikan memiliki tujuan yang penting untuk menciptakan SDM yang berkualitas, beretika dan bermoral. Dari tujuan tersebut, kita semua dapat becermin bagaimana seharusnya sebuah sistem pendidikan harus dibentuk.Tentunya kita berharap semua bahwa sistem kelulusan yang dibuat saat ini adalah upaya untuk mengarah ke sana. Disadari atau tidak pendidikan adalah investasi terbesar yang menentukan nasib bangsa ke depan. (*)</p>
<p>Tri Mukhlison Anugrah<br />
Mahasiswa Fakultas Ekonomi<br />
Universitas Indonesia</p>
<p>(Koran SI/Koran SI/rhs) </p>
<p>diambil dari <b><i><a href="http://kampus.okezone.com/read/2010/04/29/367/327609/standar-kelulusan-memicu-divestasi-masa-depan">Oke Zone</i></b></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jurnalkampus.org/standar-kelulusan-memicu-divestasi-masa-depan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pendidikan yang Sakit</title>
		<link>http://www.jurnalkampus.org/pendidikan-yang-sakit/</link>
		<comments>http://www.jurnalkampus.org/pendidikan-yang-sakit/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 May 2010 11:00:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kopral</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalkampus.org/?p=792</guid>
		<description><![CDATA[One of the most urgent endeavors to be undertaken on behalf of the reconstruction of society is the reconstruction of education–Maria Montessori (Childhood Education,1949) Anton, pelajar kelas 3 sebuah SMA di Jakarta, harus berpatah hati. Bagaimana tidak,dia mendapatkan nilai 9 untuk mata pelajaran fisika saat hasil ujian nasional diumumkan beberapa waktu lalu. Namun, dia dinyatakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="center"><img src="http://img2.pict.com/39/46/a2/3491298/0/lll1jbzflo.jpg"></div>
<p><i>One of the most urgent endeavors to be undertaken on behalf of the reconstruction of society is the reconstruction of education–Maria Montessori </i>(Childhood Education,1949)</p>
<p>Anton, pelajar kelas 3 sebuah SMA di Jakarta, harus berpatah hati. Bagaimana tidak,dia mendapatkan nilai 9 untuk mata pelajaran fisika saat hasil ujian nasional diumumkan beberapa waktu lalu. Namun, dia dinyatakan tidak lulus karena pelajaran biologinya hanya memperoleh angka 3. Anton mungkin memang tidak ingin menjadi dokter sehingga tidak terlalu peduli dengan biologi. Ia mungkin bermimpi menjadi seorang ahli nuklir.</p>
<p><span id="more-792"></span></p>
<p>Sepanjang beberapa tahun belakangan, ujian nasional memang telah menjadi momok dalam dunia pendidikan kita. Dia menghadirkan sekolah-sekolah yang angker di mana para pelajar hanya diizinkan memiliki satu mimpi; lulus ujian nasional. Tidak ada suasana sekolah yang penuh keceriaan di mana setiap siswa dibebaskan untuk bermimpi seperti dalam novel Laskar Pelangi yang terkenal itu.</p>
<p>Dunia pendidikan kita justru memperagakan pendulum represi. Represi ini melibatkan triangulasi antara negara sebagai pencipta kebijakan, komunitas sekolah yang mencakup guru, murid, dan orang tua murid sebagai pelaksana kebijakan, serta pasar yang pada akhirnya menjadi pengendali kebijakan. Kebijakan represif negara menekan komunitas sekolah di satu sisi, tetapi memberi angin segar bagi pasar di sisi lain.</p>
<p>Kebijakan ujian nasional, misalnya, menciptakan tekanan, bahkan ketakutan, bagi para guru, orang tua, dan para pelajar. Mereka berupaya menempuh cara apa pun agar bisa keluar dari tekanan. Momentum ini dimanfaatkan dengan baik oleh pasar. Guru-guru membuka les privat di luar jam pelajaran dengan beragam tarif. Industri bimbingan belajar juga tumbuh semakin subur dengan janji-janji manis jaminan kelulusan ujian nasional. Industri ini bersifat masa bodoh dengan potensi siswa.</p>
<p>Orang tua siswa yang panik pada gilirannya rela merogoh kocek berapa pun untuk “menyekolahkan” anaknya di “sekolah-sekolah tandingan” tersebut. Ironisnya, tarifnya sering kali jauh lebih mahal dibandingkan “sekolah-sekolah asli”-nya. Para siswa pun harus memeras otak dan menyiapkan energi ekstra untuk memenuhi segala tuntutan ini.</p>
<p><b>Masyarakat yang Sakit</b></p>
<p>Sejak 1949 seorang reformis pendidikan dari Amerika Serikat, Maria Montessori, telah mengingatkan bahwa kondisi suatu masyarakat adalah pantulan dari pendidikan mereka; mengubah masyarakat tidak bisa dilakukan tanpa mengubah pendidikan; masyarakat yang sakit adalah cermin pendidikan yang sakit pula. Maria Montessori tampaknya tidak berlebihan. Fakta-fakta yang terjadi di negeri kita belakangan ini telah mengonfirmasi filosofi tersebut.</p>
<p>Pendekatan represif yang terpapar dalam kebijakan pendidikan kita pada dasarnya telah menghasilkan pendidikan yang sakit. Sekolah yang angker, orang tua murid yang panik, siswa yang ketakutan, pasar yang tak terkendali, semuanya menjadi fakta yang mendukung sebuah pendidikan yang sakit; suatu pendidikan yang terlampau mengagungkan hasil dan mengabaikan makna penting proses belajar.</p>
<p>Imbas dari pendidikan yang sakit, seperti kata Montessori, adalah masyarakat yang sakit. Kita bisa melihat perilaku dari sebagian pelajar yang brutal dan destruktif di luar sekolah. Pendidikan akhlak mulia yang mereka peroleh di dalam kelas seakan hanya tinggal teori di atas kertas. Secara lebih luas kita juga bisa mengamati kecenderungan masyarakat kita yang kian sensitif.</p>
<p>Amuk massa terjadi di mana-mana. Bahkan dilakukan oleh mereka yang berbalut jubah agama. Sebagaimana pendidikan yang sakit, begitu pula masyarakat yang sakit. Masyarakat yang selalu mendewakan hasil tanpa peduli pada makna penting proses. Mereka yang menghendaki segala keinginan mereka tercapai dengan cara apa pun, terutama yang bersifat instan. Maka, di tingkat akar rumput, yang jamak terjadi adalah kekerasan fisik, sedangkan di tingkat elite yang umum berlangsung adalah korupsi.</p>
<p><b>Reformasi Sekali Lagi</b></p>
<p>Reformasi pendidikan yang telah digariskan dalam UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada dasarnya telah banyak menjawab berbagai persoalan di masa lalu meskipun, tentu saja, beberapa kelemahan masih saja ada dan perlu diperbaiki. Hal yang patut digarisbawahi adalah bahwa UU tersebut telah menganut suatu prinsip desentralisasi pendidikan.</p>
<p>Dengan prinsip ini, pemerintah daerah dan masyarakat telah dilibatkan dalam proses penyelenggaraan pendidikan dalam berbagai satuan dan jenjang. Keterlibatan masyarakat tersebut diwadahi dengan adanya lembaga-lembaga baru seperti dewan pendidikan dan komite sekolah (Pasal 56). Namun, pada pelaksanaannya, pemerintah banyak mengabaikannya.</p>
<p>Pemerintah sebagaimana tecermin baik melalui peraturan pemerintah maupun peraturan menteri tampak berupaya mendorong kembali pendulum ini ke arah sentralisasi. Hak pendidik (Pasal 58 [1]) dan masyarakat (Pasal 59 [2]) untuk melakukan evaluasi belajar, misalnya, dirampas begitu saja oleh pemerintah. Begitu pula hak dan kewajiban pemerintah daerah yang setara dengan pemerintah pusat dalam proses penyelenggaraan pendidikan (Pasal 10 dan 11) dianggap sepi.</p>
<p>Secara teknis, kondisi teritorial Indonesia yang sangat luas dengan jumlah penduduk yang amat besar tidak mungkin dijamah oleh aparatur pemerintah pusat. Kementerian Pendidikan Nasional sendiri, misalnya, terlihat sangat kedodoran dalam memperbarui data perkembangan pendidikan nasional setiap tahunnya. Pemerintah daerah dan masyarakat lokal tentu saja lebih memahami persoalan pendidikan yang dihadapi di tingkat lokal.</p>
<p>Oleh karenanya, penulis berharap reformasi pendidikan yang berbasis pada desentralisasi dan peran serta masyarakat bisa segera direkonstruksi. Hal itu bukan hanya untuk melepaskan ruang belajar siswa dari belenggu represi negara, tetapi juga untuk menghadirkan sebuah pendidikan yang mampu menjadi panacea bagi masyarakat yang sakit.(*)</p>
<p>M Hanif Dhakiri<br />
Anggota Komisi X,<br />
Sekretaris Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (FPKB) DPR RI.<br />
(//mbs)</p>
<p>diambil dari <b><i><a href="http://kampus.okezone.com/read/2010/05/11/95/331427/pendidikan-yang-sakit">Oke Zone</a></i></b></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jurnalkampus.org/pendidikan-yang-sakit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jurnal Kampus ^^v the story goes..</title>
		<link>http://www.jurnalkampus.org/jk_ad_art_09-10/</link>
		<comments>http://www.jurnalkampus.org/jk_ad_art_09-10/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Apr 2010 12:00:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kopral</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalkampus.org/?p=714</guid>
		<description><![CDATA[Hakikat dari keberadaan Jurnal Kampus yang merupakan organisasi otonom di bawah naungan Fakultas Ekonomi Universitas Lambung Mangkurat, adalah melaksanakan perannya dalam mengakomodasi kebutuhan mahasiswa untuk menyalurkan pemikirannya yang kemudian disosialisasikan kepada civitas akademika FE Unlam dan masyarakat. Asas yang digunakan dalam melaksanakan peran dari organisasi ini yaitu pancasila, dengan mengedepankan sifat-sifat idealis, independen, adil, akurat, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>
Hakikat dari keberadaan Jurnal Kampus yang merupakan organisasi otonom di bawah naungan Fakultas Ekonomi Universitas Lambung Mangkurat, adalah melaksanakan perannya dalam mengakomodasi kebutuhan mahasiswa untuk menyalurkan pemikirannya yang kemudian disosialisasikan kepada civitas akademika FE Unlam dan masyarakat. Asas yang digunakan dalam melaksanakan peran dari organisasi ini yaitu pancasila, dengan mengedepankan sifat-sifat idealis, independen, adil, akurat, aspiratif, analitis dan kreatif.</p>
<p>Jurnal Kampus merupakan wadah yang ditujukan sebagai tempat untuk mengembangkan kreatifitas dibidang jurnalistik dalam bentuk pers mahasiswa, yang bertujuan membentuk paradigma serta memberikan pandangan terhadap suatu masalah dan solusinya.</p>
<p>Untuk membentuk pedoman pada pola pergerakan Jurnal Kampus dalam kaitannya sebagai badan media mahasiswa demi mencapai tujuannya, maka disusunlah AD/ART yang dipegang dengan penuh tanggung jawab dan komitmen.
</p></blockquote>
<blockquote><p>^^v</p></blockquote>
<p><span id="more-714"></span><br />
Salam Jurnalistik.</p>
<p>Pernyataan di atas adalah pembukaan Anggaran Dasar dari Organisasi Jurnal Kampus FE UNLAM. Mengenal organisasi adalah bagian dari proses menuju integritas dan komitmen yang tinggi bagi seseorang yang berada dalam organisasi. Bagi anggota Jurnal Kampus, berikut adalah bahan yang bisa didapatkan sebagai langkah awal menuju ke sana.</p>
<p>Informasi ini masih bersifat internal, jadi password hanya diketahui oleh anggota. Beberapa waktu yang akan datang, para anggota akan mendapatkan buku panduan khusus mengenai AD/ART dan peraturan organisasi lainnya. DON&#8217;T MISS IT!!</p>
<p>Visi LPM – JK FE Unlam adalah :<br />
Mengakomodasi kebutuhan mahasiswa dalam menyalurkan pemikiran serta mensosialisasikannya kepada mahasiswa dan masyarakat.</p>
<p>Misi LPM – JK FE Unlam yaitu:<br />
1. LPM-JK FE Unlam menyalurkan informasi untuk menggambarkan sebuah masalah dan  suatu perubahan paradigma kepada civitas akademika FE Unlam serta masyarakat.<br />
2. Menyediakan fasilitas untuk mengembangkan kreatifitas dibidang jurnalistik. </p>
<div align="center"><b>download from <a href='http://www.jurnalkampus.org/wp-content/uploads/2010/04/ad-art-jk-09-10.rar'>direct link</a></b></p>
<p><b>download from <a href='http://www.mediafire.com/?zyy4zw5hzim'>mirror link</a></b></div>
<div align="center"><a href="http://facebook.com/ripinapa"><img src="http://photos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash1/hs296.ash1/22368_1200527179139_1407337137_30557687_1660643_n.jpg#1-photo" title="my name is Gunawan Akirameru" width="450"></a></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jurnalkampus.org/jk_ad_art_09-10/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Konsep Kesederhanaan Teknologi Informasi</title>
		<link>http://www.jurnalkampus.org/konsep-kesederhanaan-teknologi-informasi/</link>
		<comments>http://www.jurnalkampus.org/konsep-kesederhanaan-teknologi-informasi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Mar 2009 09:58:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kopral</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalkampus.org/?p=341</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;&#8230; kita selalu mendambakan kesederhanaan dari teknologi informasi, tetapi sering kali kita tidak mendapatkannya.&#8221; Sebagian besar dari teman-teman tentu masih ingat pada fenomena Mak Erot yang sampai-sampai dibikin film komedi. Atau, kita semua tentu tahu mengenai fenomena dukun cilik Ponari. Dari berbagai fenomena ini dan yang serupa lainnya, muncul sebuah pertanyaan, mengapa sesuatu yang sudah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;&#8230; kita selalu mendambakan kesederhanaan dari teknologi informasi, tetapi sering kali kita tidak mendapatkannya.&#8221;</p>
<p align="center"><a><img src="http://img2.pict.com/1d/83/1b/8354cf607c6f20c83c79f59989/pRi6m/320/cb046811lores.jpg" alt="" /></a></p>
<p>Sebagian besar dari teman-teman tentu masih ingat pada fenomena Mak Erot yang sampai-sampai dibikin film komedi. Atau, kita semua tentu tahu mengenai fenomena dukun cilik Ponari. Dari berbagai fenomena ini dan yang serupa lainnya, muncul sebuah pertanyaan, mengapa sesuatu yang sudah jelas tidak berhasil (bahkan secara medis tidak dapat dipertanggungjawabkan), masih terus laku. Pada akhir pemikiran, fenomena ini menyadarkan bahwa menjual mimpi memiliki daya jual yang sangat kuat (begitu kuatnya sampai bisa mengalahkan akal sehat). Dan ternyata, kalau mau melihat lebih jauh, teknik penjualan seperti ini telah banyak diterapkan pada berbagai bidang dan profesi, mulai dari tukang obat jalanan sampai pada politisi kelas atas, termasuk perusahaan pemasok TI.</p>
<p>Mimpi terbesar dalam dunia TI, saya dapat katakan adalah kesederhanaan. Melalui teknologi kita semua berharap hidup kita menjadi lebih sedehana dan lebih mudah, khususnya teknologi informasi. Sayangnya, sering kali semuanya hanyalah sebatas mimpi. Sebuah mimpi yang membuat kita membeli produk dan menganut paham teknologi tertentu. Padahal, kenyataan saat ini tidaklah seindah mimpi. Teknologi TI sekarang ini masih sangat kompleks (terutama bagi pengguna pemula), ambil contoh komputer dengan beragam konsep dan softwarenya.</p>
<p align="center"><a><img src="http://img2.pict.com/29/b9/3f/3f861843b0cc0d1d81e0529b8d/8GWmP/320/ediscovery.jpg" alt="" /></a></p>
<p><span id="more-341"></span><br />
KONSEP. Salah satu konsep yang mengganjal para pemula adalah <em>saving</em>, sebuah konsep peninggalan beberapa dekade silam saat media penyimpanan masih superduper lamban dan komputer belum multitasking. Bayangkan saja, agak sulit untuk membuat para pemula menerima bahwa: apa yang diketik di layar, sudah dapat dilihat oleh mata, sebenarnya belum benar-benar &#8220;ada&#8221; sampai di-save. Rata-rata juga sulit untuk mengingatkan mereka supaya rajin melakukan save. Kita masih harus melakukan tindakan save ini karena banyak program juga belum memiliki fitur <em>autosave</em>.</p>
<p>Konsep lain yang juga dinilai membingungkan bagi pemula adalah folder atau direktori. Banyak di antara mereka yang hanya tahu menyimpan dokumen, tapi tidak tahu di mana (atau ke mana mereka akan mencari dokumen yang telah mereka simpan). Jangankan ditanya di folder mana, beberapa dari mereka juga tidak tahu apa itu hard drive apalagi untuk menjelaskan apa itu partisi drive. Mereka kadang hanya tahu satu hal: &#8220;menyimpan di komputer&#8221;.</p>
<p align="center"><a><img src="http://img2.pict.com/d2/c0/c2/5cc833382dacfe66cc484119ba/Q8RWH/320/25.jpg" alt="" /></a></p>
<p>SOFTWARE. Kalau berbicara tentang software, kita sama-sama tahu bahwa operating system seperti windows atau linux, maupun aplikasi seperti microsoft office atau open office, adalah software yang sangat kompleks, dibangun dari ratusan juta baris source code, memiliki ratusan fitur, dan (tentunya) ribuan bug. Penggunanya harus berjibaku meski sekedar untuk menguasai dasar penggunaannya saja. Belum lagi menguasai secara mahir penggunaan software-software ini, mereka sudah dibuat pusing dengan serangan spam, virus, atau malware lain dengan memanfaatkan bug yang dimiliki software dalam komputernya.</p>
<p>Java adalah contoh lainnya. Janji yang di usung oleh Java sebenarnya memberikan harapan akan dunia yang lebih sederhana dengan kehadiran bahasa pemprograman yang portable, aman, siap jaringan, dan bisa dipakai menggantikan bahasa tingkat rendah sekalipun. Kenyataannya, dari Java lahir banyak standar yang ribet. Impian akan portabilitas sepertinya semu, dan slogan &#8220;compile once run everywhere&#8221; ternyata menghasilkan &#8220;debug everywhere&#8221;.</p>
<p>Ada lagi yang terbaru, Windows 7. Setelah kehadiran Windows Vista yang kurang mendapat apresiasi pasar, Microsoft mengumumkan akan meluncurkan versi Windows terbaru yang menggunakan kernel baru yang kecil, MinWin. Di luar alasan teknis, sepertinya ini adalah respon dari adanya penolakan pasar terhadap tingkat kompleksitas yang tinggi. Mungkin sudah saatnya kembali menjual mimpi kesederhanaan pada pelanggan mereka. Sebuah mimpi betapa Windows yang baru nanti akan lebih kecil, lebih ringkas, dan tentunya lebih sederhana dari pada versi sebelumnya.</p>
<p align="center"><a><img src="http://img2.pict.com/81/2f/94/76e0a7e8b979c8c575e60bc588/96MiL/rightbrainleftbrain.jpg" alt="" /></a></p>
<p>Sebuah kenyataan bahwa manusia selalu mengharapkan kesederhanaan. Bisa jadi memang disebabkan oleh otak manusia memiliki keterbatasan kapasitas dalam memproses informasi dengan tingkat kompleksitas maksimum tertentu pula. Di atas tingkat kerumitan tertentu, kita tidak dapat lagi memahami sesuatu &#8220;di luar kepala&#8221;. Semakin banyak hal yang kompleks, maka semakin terkuras kapasitas otak kita memahaminya. karena itu kita selalu mencari hal yang sederhana agar masih leluasa memahami hal lainnya.</p>
<p>Padahal dalam  perkembangannya, segala sesuatu menjadi semakin kompleks. Jumlah transistor dalam chip telah meningkat dari 2.300 tahun 1971 menjadi setidaknya 2 milyar sekarang ini. Performa sebuah processor tidak lagi mengandalkan peningkatan clock speed, melainkan telah berubah menjadi multicore, sesuatu yang menuntut pemprograman multithreadhing (rasanya tidak perlu dijelaskan betapa repotnya pemrograman multithreadhing).</p>
<p align="center"><a><img src="http://img2.pict.com/ad/28/c5/7458cfeec87038a49bd6bee6b0/tlS9c/320/googleinfo.jpg" alt="" /></a></p>
<p>Sayangnya memang banyak produk TI yang tidak bisa menyembunyikan kompleksitas dari para penggunanya. Jadi, saatnya para vendor TI berhenti hanya menjual mimpi seperti penjual obat jalanan atau politisi, tetapi berusaha lebih keras mewujudkan impian akan teknologi informasi yang sedehana bagi kita para penggunanya.</p>
<p>[ inspirasi dari <a href="http://masterwebnet.com">Steven Haryanto</a> (analis system dan pemerhati security) dalam artikelnya di <a href="http://pcmedia.co.id">PC Media</a> ]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jurnalkampus.org/konsep-kesederhanaan-teknologi-informasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kreatifitas Versi Indonesia</title>
		<link>http://www.jurnalkampus.org/kreatifitas-versi-indonesia/</link>
		<comments>http://www.jurnalkampus.org/kreatifitas-versi-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Mar 2009 17:53:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kopral</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalkampus.org/?p=336</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;&#8230;walaupun rata-rata berbasiskan ketidaktahuan terhadap peraturan dan kemiskinan pengetahuan, sebetulnya orang Indonesia bisa dibilang punya bibit kreatifitas.&#8221; Sebuah posting blog berceloteh, mengeluh orang indonesia betul-betul tidak kreatif. Di Jepang ada sebuah reality show yang sangat terkenal, saya yakin banyak di antara teman-teman yang pernah menontonnya pada salah satu stasiun televisi swasta, berupa lomba pagelaran pendek [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;&#8230;walaupun rata-rata berbasiskan ketidaktahuan terhadap peraturan dan kemiskinan pengetahuan, sebetulnya orang Indonesia bisa dibilang punya bibit kreatifitas.&#8221;</p>
<p align="center"><a><img src="http://img2.pict.com/b8/3d/36/00666682f625e4bc81c7f7fd24/EfWCw/320/creativeblack.jpg"></a></p>
<p>Sebuah posting <i>blog berceloteh</i>, mengeluh orang indonesia betul-betul tidak kreatif. Di Jepang ada sebuah <i>reality show</i> yang sangat terkenal, saya yakin banyak di antara teman-teman yang pernah menontonnya pada salah satu stasiun televisi swasta, berupa lomba pagelaran pendek hasil kreatifitas kostum para peserta, entah itu perorangan, sekumpulan anak sekolah, atau pasangan suami istri. Rupanya, menurut posting blog ini, ide acara tersebut pernah ingin diadaptasi di Indonesia. Namun, karena ternyata sumbangan yang masuk tidak juga ada yang bagus, maka proyek ini akhirnya dibatalkan.</p>
<p>Sebenarnya, terlalu tinggi jika kita merasa bisa membandingkan diri dengan Jepang. Jepang adalah fenomena tingkat dunia yang saat ini pun masih digeleng-gelengi kepala, baik oleh orang barat maupun sesama orang timur. Dari negara satu ini selalu muncul berbagai ide, produk, bahkan trend seni (manga, anime, game, fashion), teknologi, dan lain-lain. Kadang hasilnya keren, ada juga yang aneh, sebagian juga ada yang benar-benar gila. Walaupun demikian, satu hal: semuanya kreatif.</p>
<p align="center"><a><img src="http://img2.pict.com/64/a7/15/ce4f2ef2ed288ffc3b908e7201/HuO3d/lightbulbideardax225x225.jpg"></a></p>
<p><span id="more-336"></span><br />
Ada sebuah teori yang mencoba menjelaskan mengapa bangsa Jepang begitu kreatif. Katanya, orang Jepang tidak pernah benar-benar menerima kekalahan yang begitu dramatis pada Perang Dunia II setelah Hiroshima dan Nagasaki diledakkan. Karena sekarang bukan lagi zaman perang (di Jepang, membahas tentang perang juga tabu) maka akhirnya orang Jepang mengerahkan seluruh energi dan perhatiannya untuk membuat &#8220;ledakan&#8221; dibidang yang lain, yaitu budaya popular. Di samping itu, kita semua tentu tahu bahwa secara georafis Jepang tidak superkaya, tidak juga supersubur, bahkan daerahnya sering mengalami gempa. Maka mau tidak mau mereka harus mengandalkan kekuatan sumber daya manusia untuk bertahan hidup.</p>
<p>Sayangnya, Indonesia tidak &#8220;diberkahi&#8221; dengan banyak gempa atau kemiskinan sumber daya alam. Malahan, Indonesia &#8220;dikutuk&#8221; dengan alam yang sepoi-sepoi dan gembur. Kekayaan ini menurut pendapat banyak orang, malah membuat kita menjadi malas dan santai.</p>
<p align="center"><a><img src="http://img2.pict.com/2c/20/be/db94ad2f42f2d4e8c5ccc071cf/Ooy9i/questionmark2.jpg"></a></p>
<p>Tapi, jangan salah. Kemalasan sebetulnya bisa melahirkan kreatifitas karena orang termotivasi untuk mencari cara yang lebih mudah, lebih cepat, lebih murah, atau lebih menguntungkan untuk mencapai tujuan. Lihat saja betapa terkenalnya Indonesia dalam hal membajak software, musik, atau film hanya karena ingin dapat barang gratis atau paling tidak murah. Contoh lain bisa dilihat dari kreatifitas dalam mengelola sistem untuk korupsi, kolusi, nepotisme yang sangat terorganisir dari manajemen puncak sampai ke tingkat pekerja yang paling bawah. Atau, cobalah lihat betapa cepatnya orang Indonesia mengadopsi SMS sebagai pengganti kartu ucapan karena lebih praktis, tidak repot, dan lebih murah. sangat kreatif (meski <i>tasteless</i>), jika kita mau menyebutnya sebagai kreatifitas.</p>
<p>Sepertinya Indonesia kekurangan dalam hal yang berbeda, misalnya pendidikan dan ilmu pengetahuan. Tapi bagi orang yang kreatif, kekurangan ini justru akan membentuk banyak ide untuk bertahan hidup. Misalnya, ada beberapa mahasiswa yang membuat blog bukan untuk bercerita, tetapi digunakan untuk bertanya. Ide yang sangat mencerminkan kretifitas. Benar juga, dari pada kita repot mengunjungi forum atau milis untuk bertanya, lebih praktis kalau kita mengundang orang ke blog sendiri untuk memberikan jawaban. Pemikiran yang simpel, sesuatu yang sebetulnya didasari kurang pengetahuan. Hanya bisa bikin blog, akhirnya blog bisa dipakai untuk apa saja. Tetap saja, saya benar-benar menganggap ini cermin kreatifitas.</p>
<p align="center"><a><img src="http://img2.pict.com/29/93/23/ff82dc0ef5b201e25f3eeef723/YWDZt/ibsteplogo04.jpg"></a></p>
<p>Sekarang kita coba membandingkan Indonesia dengan negara lain yang lebih dekat, Singapura, yang saat ini kaya, berpendidikan tinggi, dan hukumnya ditegakkan dengan (agak terlalu) ketat. Hasilnya? membosankan dan bagi banyak orang tidak imajinatif.</p>
<p>Pernah dengar istilah &#8220;singapore is a fine city&#8221;. Maksudnya apapun yang ada di Singapura akan dinilai dengan denda (fine=denda). Atau pernah lihat film produksi Singapura, rata-rata biasa saja. Hal unik yang dimiliki oleh film buatan singapura biasanya lebih karena bilingual atau trilingual, tetapi dari tema, cara penyampaian, dan pemainnya harus dimaklumi karena pilihan memang terbatas. Bagaimana tidak? tingkat kriminalitas di sana rendah, dibandingkan dengan ukuran Indonesia yang penuh warna (merah). Mana ada imajinasi untuk membuat film-film aksi, horor, tragedi, pembunuhan, mutilasi, atau kerusuhan? Pemerintah singapura tentu saja menggalakkan industri kreatifnya dengan berbagai cara, seperti memberikan insentif bagi mereka yang menyumbangkan ide konstruktif bagi pemerintah Singapura. Hal ini dimaksudkan agar rakyat singapura lebih partisipatif dan kreatif dalam menciptakan ide untuk membangun Singapura, sampai-sampai kota ditempeli dengan pesan layanan masyarakat yang berbunyi &#8220;be creative&#8221; (wow, most people think that&#8217;s funny, gimme a break, no one can tell you to be creative, it&#8217;s the way of life).</p>
<p align="center"><a><img src="http://img2.pict.com/8f/30/d1/867dc07cfed6ef34f615dcbf7e/bL82C/naturallycreative.gif"></a></p>
<p>Umumnya, keunggulan suatu negara akan dilihat dari kemampuan ekonomi, kekokohan sistem pemerintahan, atau kemajuan teknologinya. Namun, semua keunggulan itu bukan berasal dari sekedar ilmu pengetahuan, melainkan lebih kepada penerapan keunggulan ide-ide kreatif dari sumber daya manusia yang kompeten.  Melihat bagaimana kebiasaan bangsa ini dalam bertahan hidup, sepertinya tidak salah untuk mengatakan bahwa kita sudah punya bibit kreatifitas, yang diperlukan hanyalah peningkatan pendidikan dan keahlian.</p>
<p>[ inspirasi dari <a href="http://masterwebnet.com">Steven Haryanto</a> (analis system dan pemerhati security) dalam artikelnya di <a href="http://pcmedia.co.id">PC Media</a> ]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jurnalkampus.org/kreatifitas-versi-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membuat Password Yang Sulit Dibobol Cracker!</title>
		<link>http://www.jurnalkampus.org/membuat-password-yang-sulit-dibobol-cracker/</link>
		<comments>http://www.jurnalkampus.org/membuat-password-yang-sulit-dibobol-cracker/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Mar 2009 18:54:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kopral</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalkampus.org/?p=318</guid>
		<description><![CDATA[Sekarang ini para Cracker menjadi semakin kreatif dalam usahanya membobol email, friendster, rekening online, web site, bahkan blog. Jangan terkejut jika suatu hari layout friendster anda berubah tampilannya, atau jika anda mendapati blog anda diobok-obok isinya hingga jungkir balik. Salah satu cara ampuh yang biasa digunakan cracker dalam menembus account kita adalah menebak password. Tentu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sekarang ini para Cracker menjadi semakin kreatif dalam usahanya membobol email, friendster, rekening online, web site, bahkan blog. Jangan terkejut jika suatu hari layout friendster anda berubah tampilannya, atau jika anda mendapati blog anda diobok-obok isinya hingga jungkir balik.</p>
<p align="center"><a><img src="http://img2.pict.com/43/c8/da/7fd3f4f072926746c3bfe54c95/V6Ku7/learnhowtocrack.jpg" alt="" /></a></p>
<p>Salah satu cara ampuh yang biasa digunakan cracker dalam menembus account kita adalah menebak password. Tentu bukan sekedar menebak dengan mengandalkan keberuntungan. Cracker menggunakan script yang dapat memasukkan puluhan password setiap detiknya untuk mendapatkan kombinasi password yang benar. Cara ini membuat mereka bekerja dengan cepat, mudah, dan otomatis. Pada umumnya ada tiga tipe pendekatan dalam menebak password, yaitu <em>brute force attack</em>, <em>dictionary attack</em>, dan <em>personal information attack</em>.</p>
<p align="center"><a><img src="http://img2.pict.com/b5/83/16/197ea3f258b070dd5144858c8f/gNNdv/3238029478aa1df44c98.jpg" alt="" /></a></p>
<p><span id="more-318"></span><br />
Brute force attack adalah metode menebak password dengan mencoba semua kombinasi, mulai dari aaaa sampai zzzz, sampai beberapa karakter. Dictionary attack merupakan metode menebak password dengan menggunakan kata-kata dalam kamus, dan dikombinasikan dengan angka-angka atau karakter. Sedangkan personal information attack menggunakan cara memasukkan data-data pribadi seperti nomor telepon, tanggal lahir, nama pacar, kode pos, dan sebagainya.</p>
<p align="center"><a><img src="http://img2.pict.com/27/75/7d/377fe993d09e3260ce47822efd/gAALg/cover.gif" alt="" /></a></p>
<p>Dari beberapa pendekatan di atas, maka ada beberapa kategori password yang &#8220;lemah&#8221;. Misalnya 1234567890, qwerty, asdf, karena sangat mudah mengetikkan ini di atas keyboard. Yang lain seperti kata password, mypassword, default, atau kata lainnya yang dapat ditemukan dalam kamus. Atau informasi seperti tanggal lahir, nama pacar, atau hal lain yang merupakan data diri. Bahkan ada kategori password yang dapat &#8220;lebih cepat dibobol&#8221;. Seperti, menggunakan huruf kecil semuanya, kombinasi kata dan angka (100rupiah, manajemen07), dan mengganti huruf dengan karakter (cint@).</p>
<p>Berangkat dari pemikiran yang sama dengan penilaian password yang &#8220;lemah&#8221;, maka ada trik membuat password yang &#8220;kuat&#8221;. Karakteristik pertama password yang &#8220;kuat&#8221; antara lain terdiri dari gabungan huruf besar, huruf kecil, nomor, dan karakter. Ciri kedua password yang &#8220;kuat&#8221; yaitu minimal 10 karakter. Dan yang ketiga adalah tidak seluruh bagian menyertakan kata yang terdapat dalam kamus. Memang terdengar mudah dilakukan, sedangkan umumnya sebagian orang mengalami kesulitan dalam penerapan teknik ini. Namun, itulah harga yang harus dibayar untuk sebuah keamanan (tingkat keamanan biasanya berbanding terbalik dengan tingkat keleluasaan penggunaan).</p>
<p align="center"><a><img src="http://img2.pict.com/bc/7b/f3/ed2a4e5cdd62d6749b2ef7a6b0/DcqrP/j9.jpg" alt="" /></a></p>
<p>Tapi, jangan pesimis dulu. Untuk membuat password bertipe &#8220;kuat&#8221; tetap ada trik yang mudah digunakan, karena password yang baik tetaplah password yang mudah diingat pemiliknya. Berikut ada beberapa contohnya.</p>
<p>Password 1: 1mAu$2Juta<br />
Cara mengingat:<br />
# 1 = kata &#8220;saya&#8221; (english I=saya)<br />
# mAu = mau<br />
# $ = uang<br />
# 2Juta = dua juta<br />
# Saya mau uang dua juta</p>
<p>Password 2: riN-&gt;0+1Gul<br />
cara mengingat:<br />
# riN = nama pacar misal Rina<br />
# -&gt; = adalah<br />
# 0+ = lambang &#8220;cewek&#8221;<br />
# 1 = paling (nomer satu)<br />
# Gul = gula itu manis<br />
# Rina adalah cewek paling manis</p>
<p>Terakhir masih ada beberapa masukkan dalam penggunaan password. Pertama, hindari penggunaan password yang sama untuk berbagai layanan berbeda seperti password email yahoo anda sama dengan password friendster anda. Karena apabila ada orang yang membobol friendster anda maka ia juga bisa membobol email yahoo anda, padahal membobol friendster relatif lebih mudah dibanding membobol email yahoo (admin atau &#8220;orang dalam&#8221; dari friendster juga tahu password anda, siapa tahu dia lagi bosan kemudian iseng).</p>
<p>Kedua jangan mengklik link di email yang menyatakan anda harus memverifikasi password anda, EMAIL INI DIKIRIM OLEH CRACKER.</p>
<p>Ketiga, jangan memasukkan password pada situs selain dari situs yang memberikan layanan. Misalnya, jangan memasukkan password yahoo pada situs friendster (kalau di friendster kan ada import address book, semacam inilah).</p>
<p>Keempat, sebelum login ke email atau ke layanan lainnya PASTIKAN URL di browser anda telah benar. Misalnya, mail.yahoo.com, bukan mail.yahoo-ltd.com atau yahoo-verify.com.</p>
<p>Kelima, untuk rekening online seperti klik BCA, paypal, atau sejenisnya sebaiknya jangan mengetikkan langsung password anda melalui keyboard. Pada Postingan <a href="http://www.jurnalkampus.org/cracker-how-do-the-attackers-do-this/">Cracker: How do the attacker do this?</a> saya telah menyinggung bahwa cracker dapat memasukkan keylogger pada komputer anda sehingga mereka dapat mengetahui apapun yang anda ketik di keyboard. Untuk mengatasi hal ini saya sarankan menggunakan on-screen keyboard, charakter map, atau copy paste dari huruf acak.</p>
<p align="center"><a><img src="http://img2.pict.com/b3/7b/55/8f35dc99625794659e43fe8b6a/xdk9I/pcsecurity.gif" alt="" /></a></p>
<p>Nah, sekarang semuanya tergantung anda. Keamanan kita dalam dunia maya memang tidak pasti, namun beberapa usaha kecil yang dimulai dari sekarang akan membantu kita menghilangkan kekhawatiran yang tidak perlu.</p>
<p>[ inspirasi dari <a href="http://tutorialgratis.wordpress.com">Oka Mahendra</a> dan terima kasih buat ka <a href="http://www.anggazone.com" target="_self">Angga</a> untuk komentarnya mengenai password pada posting <a href="http://www.jurnalkampus.org/cracker-how-do-the-attackers-do-this/">Cracker: How do the attackers do this?</a> ]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jurnalkampus.org/membuat-password-yang-sulit-dibobol-cracker/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebuah Revolusi: Otak Super</title>
		<link>http://www.jurnalkampus.org/sebuah-revolusi-otak-super/</link>
		<comments>http://www.jurnalkampus.org/sebuah-revolusi-otak-super/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Mar 2009 09:50:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kopral</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalkampus.org/?p=317</guid>
		<description><![CDATA[Bagian 1 dari 2 artikel Bagian 2 dari 2 artikel Beberapa dekade terakhir banyak diramaikan oleh berbagai kemajuan dan revolusi dalam bidang telekomunikasi. Setelah kehidupan manusia dimanjakan dengan internet berkecepatan tinggi, kira-kira apa lagi revolusi berikutnya? Saat ini dengan menggunakan bantuan GPS, ponsel, dan internet, kehidupan kita menjadi sangat kolaboratif. Dengan sangat nyaman kita dapat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.jurnalkampus.org/sebuah-revolusi-buku-vs-e-buku/">Bagian 1</a> dari 2 artikel<br />
Bagian 2 dari 2 artikel</p>
<p>Beberapa dekade terakhir banyak diramaikan oleh berbagai kemajuan dan revolusi dalam bidang telekomunikasi. Setelah kehidupan manusia dimanjakan dengan internet berkecepatan tinggi, kira-kira apa lagi revolusi berikutnya?</p>
<p align="center"><a><img src="http://img2.pict.com/f7/a1/b3/b4a03a75ca051ed5c4e82a90bb/LaSKS/320/2005518chinainternetcafeweb.jpg"></a></p>
<p>Saat ini dengan menggunakan bantuan GPS, ponsel, dan internet, kehidupan kita menjadi sangat kolaboratif. Dengan sangat nyaman kita dapat memanfaatkan ingatan maupun kecerdasan kolaboratif. Pemanfaatan GPS misalnya telah mengalihkan pengetahuan geografis dari otak sendiri ke satelit. Ingatan otak pun telah dialihkan, tidak perlu mengingat apa-apa lagi, sudah ada ponsel pintar, layanan kalender dan kontak web, Google, dan Wikipedia. Kalau bisa diibaratkan, kita adalah satu titik dalam jaringan cluster raksasa, sebuah core inti dalam processor multicore besar. Kemampuan per-individu kita memang tidaklah besar, namun kita adalah bagian dari komunitas raksasa yang sangat ampuh.</p>
<p>Di sisi lain, jika komunikasi antar titik dalam jaringan sudah cukup cepat dan efisien (murah), maka cara yang tersisa untuk meningkatkan kemampuan jaringan keseluruhan adalah peningkatan kemampuan titik itu sendiri.</p>
<p align="center"><a><img src="http://img2.pict.com/fa/10/bd/0303fac12f06b29295d42c9db8/rGrt1/gpsnavigationalsatellites.jpg"></a></p>
<p><span id="more-317"></span><br />
Sepanjang sejarah manusia, belum banyak kemajuan drastis yang didapat otak dari kemajuan teknologi. Kemampuan otak kita untuk membaca, mendengar, menyerap informasi tetap segitu-gitu saja. Manusia dewasa rata-rata mampu membaca 250-300 kata pemenit. Kecepatan pendengaran maksimum sekitar 400 kata permenit. Kecepatan menulis/mengetik antara 25-100 kata permenit. Walaupun ada teknik membaca cepat misalnya, hanya bisa meningkatkan ini hingga 2-3 kali saja.</p>
<p align="center"><a><img src="http://img2.pict.com/28/91/3e/b6bba6f62a94258b4a060f1989/cSYm1/internetmarketingfocus.jpg"></a></p>
<p>Akibatnya, walaupun sambungan internet kita mampu nge-download banyak buku dalam semenit, faktanya paling hanya dua buku yang dapat kita nikmati dalam satu minggu. Meskipun komputer kita mampu memutar 10 film MPEG4 sekaligus secara paralel dengan kecepatan tinggi, faktanya hanya 1 film yang dapat kita nikmati dengan kecepatan tidak jauh dari normal (1x).</p>
<p align="center"><a><img src="http://img2.pict.com/c6/ca/06/3a2c04910452cf62f4ca8d5a7c/0yNdr/superbrainthumb7305045.jpg"></a></p>
<p>Di sinilah ketimpangan telah terjadi, dan melahirkan sebuah visi untuk masa depan. Sebuah revolusi besar berikutnya setelah internet adalah peningkatan kemampuan otak secara individual, sebuah OTAK SUPER. Bila internet membuat jaringan dapat meningkatkan kecepatan antar titik dalam berbagi informasi, maka otak super akan meningkatkan kemampuan sebuah titik tunggal untuk memproses informasi. Bayangkan bila anda dapat membaca buku dalam hitungan detik. Atau misalnya meng-upload bahan kuliah ke otak anda sebelum tidur, sehingga ketika anda bangun esok hari tahu-tahu anda sudah menguasai materi tersebut. Pikirkan jika penyimpanan data dapat di hubungkan ke otak sehingga anda dapat membawa seluruh koleksi CD, DVD, atau ensiklopedia (ho..ho.. pernah terpikir perpustakaan berjalan yang sesungguhnya). Jika belum cukup, bayangkan jika dapat memilki otak fotografis dan menjepret/merekam dengan mata anda.</p>
<p align="center"><a><img src="http://img2.pict.com/26/74/0d/404b86e65ab9484b66cb0a9c52/Yihqt/brain01.jpg"></a></p>
<p>Tentu saja jika melihat perkembangan teknologi saat ini, visi tentang sebuah otak super masih akan datang jauh dibanyak tahun yang akan datang. Namun, ini bukan kemustahilan karena semua hal besar tentulah bermula dari mimpi dan harapan. Waktu akan menjawab bahwa visi seperti ini akan menjadi nyata, dan semoga kita masih hidup untuk menyaksikannya.</p>
<p>[ inspirasi dari <a href="http://masterwebnet.com">Steven Haryanto</a> (analis system dan pemerhati security) dalam artikelnya di <a href="http://pcmedia.co.id">PC Media</a> ]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jurnalkampus.org/sebuah-revolusi-otak-super/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebuah Revolusi: Buku vs e-Buku</title>
		<link>http://www.jurnalkampus.org/sebuah-revolusi-buku-vs-e-buku/</link>
		<comments>http://www.jurnalkampus.org/sebuah-revolusi-buku-vs-e-buku/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Mar 2009 10:17:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kopral</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalkampus.org/?p=166</guid>
		<description><![CDATA[Bagian 1 dari 2 artikel Bagian 2 dari 2 artikel &#8220;..buku sebagai media informasi nondigital, yang tidak up to date, tidak interaktif, tidak kolaboratif, tidaklah lagi cocok di era informasi dan sebaiknya minggir.&#8221; Sejak kecil kita telah dikenalkan dengan buku sebagai media informasi dan bahan belajar terutama di sekolah. Bahkan, saat kuliah pun sebagian di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagian 1 dari 2 artikel<br />
<a href="http://www.jurnalkampus.org/sebuah-revolusi-otak-super">Bagian 2</a> dari 2 artikel</p>
<p>&#8220;..buku sebagai media informasi nondigital, yang tidak up to date, tidak interaktif, tidak kolaboratif, tidaklah lagi cocok di era informasi dan sebaiknya minggir.&#8221;</p>
<p align="center"><a><img src="http://www.copyblogger.com/images/ebook.jpg"></a></p>
<p>Sejak kecil kita telah dikenalkan dengan buku sebagai media informasi dan bahan belajar terutama di sekolah. Bahkan, saat kuliah pun sebagian di antara para dosen masih punya kepercayaan untuk &#8220;memaksa&#8221; mahasiswa memilki buku &#8220;wajib&#8221; mata kuliah tertentu dan menganggap buku adalah sumber informasi utama. Dan pada akhirnya kepercayaan inilah yang terus dijejalkan pada generasi berikutnya, termasuk pada saya dan kemungkinan besar anda juga terpengaruh oleh kepercayaan ini.</p>
<p>Tapi kini saya tidak lagi percaya bahwa buku adalah media informasi yang utama. Nyaris seluruh informasi yang saya dapat saat ini dari internet: Google, Wikipedia, manual online, milis dan forum, blog, serta website berita. Kalau dibandingkan dengan media lain di era digital ini, buku adalah salah satu yang paling jadul, paling mahal, dan paling memiliki berbagai kekurangan. Pun rasanya tidak terlalu berlebihan jika saat ini saya mengatakan keberadaan buku cepat atau lambat akan punah. Berikut adalah beberapa pemikiran mengenai keberadaan buku di masa depan.<br />
<span id="more-166"></span></p>
<p align="center"><a><img src="http://therawfeed.com/pix/ebook-revolution.jpg"></a></p>
<p>SEMUA AKAN MENJADI E-BUKU. Benar sekali, hanya e-Buku yang akan beredar di masa depan. Dengan mengubah distribusi buku fisik menjadi elektronik setidaknya akan menurunkan sebagian besar kekurangan buku. Harga buku seharusnya turun antara 20% &#8211; 25% saat menjadi e-Buku karena memang kira-kira segitulah porsi untuk biaya percetakan. Selain itu tidak ada lagi biaya dan efek samping dari penggunaan kertas. Para pecinta lingkungan tentunya bisa lebih lega karena untuk di Amerika Serikat saja setidaknya 20 juta pohon akan dapat diselamatkan (atau setidaknya digunakan untuk keperluan yang lebih penting) seandainya 3 milyaran buku tidak perlu lagi dicetak setiap tahunnya. Dan yang lebih terutama kita terbebas dari keharusan untuk membawa dan menyimpan buku yang memakan tempat dan sangat berat itu. Sampai beberapa bulan lalu saat kuliah saya masih punya keteguhan hati untuk membawa buku &#8220;wajib&#8221; perkuliahan yang 2-3 buku saja sudah mencapai 1 kg lebih. Tapi pada akhirnya bukannya mendapat nilai tinggi, malah semangat untuk belajar menjadi turun (melihat bukunya saja sudah merasa tidak nyaman, bolak-balik kuliah sambil angkat beban juga sangat melelahkan dan repot). Saat akhirnya e-Buku telah menyadarkan kita semua, maka di masa depan tentunya saya, anda, dan semua orang akan melepas  berkarung-karung buku yang berat dan sebagian besar hanya menjadi pajangan yang memakan tempat karena isinya telah usang.</p>
<p align="center"><a><img src="http://thefutureofpublishing.com/blog/airplane-sony-ebook-reader.jpg"></a></p>
<p>SEMUA ORANG HANYA AKAN MEMBACA RINGKASAN SAJA. Pada masa sekarang ini rata-rata orang sudah tidak punya waktu lagi untuk membaca lebih dari satu buku perminggu atau bahkan perbulan. Di masa depan hal seperti ini akan semakin parah karena jumlah dan jenis kegiatan yang harus dilakukan juga semakin beragam. Dan tentunya akan banyak media lain yang berkembang untuk untuk menyaingi keberadaan buku, sementara waktu yang ada hanya 24 jam sehari. Banyak buku, terutama buku bisnis praktis yang sebetulnya intinya hanya satu halaman tapi diperpanjang menjadi 200 halaman. Karena keterbatasan waktu ini, di masa depan kegiatan membaca buku akan semakin tergantikan oleh cukup membaca selama 5 &#8211; 30 menit website yang isinya ringkasan buku.</p>
<p align="center"><a><img src="http://www.itechnews.net/wp-content/uploads/2008/05/irex-iliad-book-edition-e-book-reader.jpg"></a></p>
<p>SEMUANYA AKAN MENJADI INTERAKTIF. E-Buku saat ini telah memberikan kelebihan seperti dapat di search, disalin gratis, dan dapat disimpan tanpa makan tempat. Di antara berbagai kelebihannya tersebut, e-Buku saat ini tetap memiliki kekurangan: bentuknya masih segitu-gitu saja, statik.  E-Buku di masa depan seharusnya mengikuti transisi web yang telah bergeser dari statik ke dinamik yaitu lebih interaktif. Misalnya, kita dapat langsung mengirim komentar atau pertanyaan kepada penulis hanya dengan meng-klik tombol pada e-Buku, ada tes interaktif untuk menguji pemahaman pembaca, ada grafik atau tabel yang bisa disortir, difilter, atau dibolak-balik.   </p>
<p>SEMUANYA AKAN MENJADI KOLABORATIF. Di masa depan akan semakin banyak karya yang dihasilkan secara kolektif. Bukan masanya lagi sebuah karya besar hanya dihasilkan oleh satu otak saja. Dua kepala lebih baik dari pada satu (lebih banyak lebih baik lagi tentunya). Software open source telah membuktikan keunggulan ini, dan e-Buku pun akan menyusul. E-Buku yang layak baca dan berpengaruh (kecuali fiksi), umumnya nanti merupakan hasil kerjasama beberapa penulis (a la Wikipedia), dan bukan lagi penulis tunggal.</p>
<p>Tentu saja setiap perubahan memerlukan waktu. Apa pun kemungkinan yang bisa terjadi di masa depan, saat ini bukanlah masa depan. Begitu pula untuk mencapai tingkat perubahan yang lebih baik memerlukan penunjang yang memadai. Industri besar buku, percetakan, dan penerbitan tradisional perlu waktu lama untuk berubah. Akses ke laptop dan internet terutama bagi anak-anak dan kalangan bawah masih belum merata. Tapi, walau bagaimanapun ini hanya masalah waktu. Seleksi alam pada akhirnya akan menyingkirkan media yang sudah tidak kompetitif ini.</p>
<p align="center"><a><img src="http://www.xconomy.com/wordpress/wp-content/images/2008/05/xoxo_ebook_640.jpg" width="480px"></a></p>
<p>Ho..ho.. bagaimana dengan pendapat anda mengenai keberadaan buku di masa depan? saya jadi penasaran dan menantikan komentar anda.. Pada <a href="http://www.jurnalkampus.org/sebuah-revolusi-otak-super/">bagian 2</a> dari artikel ini saya akan mengungkapkan sesuatu yang lebih revolusioner tentang visi mengenai masa depan!</p>
<p>[ inspirasi dari <a href="http://masterwebnet.com">Steven Haryanto</a> (analis system dan pemerhati security) dalam artikelnya di <a href="http://pcmedia.co.id">PC Media</a> ]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jurnalkampus.org/sebuah-revolusi-buku-vs-e-buku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cracker: How do the attackers do this?</title>
		<link>http://www.jurnalkampus.org/cracker-how-do-the-attackers-do-this/</link>
		<comments>http://www.jurnalkampus.org/cracker-how-do-the-attackers-do-this/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Feb 2009 17:49:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kopral</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalkampus.org/?p=154</guid>
		<description><![CDATA[Posting ini merupakan lanjutan dari postingan Hacker: Criminal vs Professional sebelumnya. Seorang hacker yang juga sebagai security professional mempunyai tugas berat ketika mengamankan network mereka. Terlebih dengan keberadaan para lamers dan script kiddies dengan semangat seorang cracker. Mereka ini sering menimbulkan background noise dengan aktifitas mereka dalam coba-coba. Siapa yang bisa memastikan apakah serangan yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Posting ini merupakan lanjutan dari postingan <a href="http://www.jurnalkampus.org/hacker-criminal-vs-professional/">Hacker: Criminal vs Professional</a> sebelumnya.</p>
<p>Seorang hacker yang juga sebagai security professional mempunyai tugas berat ketika mengamankan network mereka. Terlebih dengan keberadaan para lamers dan script kiddies dengan semangat seorang cracker. Mereka ini sering menimbulkan background noise dengan aktifitas mereka dalam coba-coba. Siapa yang bisa memastikan apakah serangan yang terjadi hanyalah sebuah script sederhana atau sebuah awal dari serangan besar yang sangat fatal? Pada banyak kasus, tidak ada yang bisa. File logs sebuah situs mungkin saja penuh dengan catatan percobaan pembobolan pada hari itu, tapi diantara semua itu akan sangat luar biasa sulit untuk menentukan mana yang merupakan serangan serius, dan mana yang merupakan percobaan lubang keamanan. Masalahnya tidak ada yang punya cukup waktu dan data yang dapat digunakan untuk menentukan mana ancaman serangan yang serius, setidaknya tidak ada yang saya tahu. Dan luar biasanya banyak cracker menggunakan keunggulan ini.</p>
<p align="center"><a><img src="http://lh3.ggpht.com/__ggCqdMpPjE/SakLvekIR9I/AAAAAAAAA6g/FGdwtxU6gPE/s400/cracker2.jpg"></a></p>
<p>How do the attacker do this? Sesuai dengan judul posting ini, saya mencoba menjelaskan bagaimana para pembobol memanfaatkan keunggulan mereka; dengan kemampuan saya yang terbatas tentu saja. Pada umumnya ada tiga tipe penyerangan, yaitu <i>technical attacks</i>, <i>physical attack</i>, dan <i>social engineering attacks</i>.<br />
<span id="more-154"></span><br />
Technical attacks merupakan serangan yang benar-benar murni menggunakan kelemahan dan lubang keamanan dari software, protocol, atau konfigurasi yang bertebaran di dalam sistem, yang dieksploitasi untuk mendapatkan akses ke dalam sistem. Serangan semacam ini dapat datang dari mana saja di planet ini. Jika itu belum cukup hebat menurut anda, mereka biasanya terhubung secara berantai dengan berbagai sistem lainnya untk menyembunyikan sumber penyerangan yang sebenarnya. Tipe serangan ini merupakan yang paling umum di dunia saat ini, karena serangan ini dengan mudah dapat dibuat otomatis. Serangan seperti ini juga yang paling mudah untuk diatasi. </p>
<p>Phisical attacks menggunakan kondisi rentan yang berada disekeliling sistem. ini mungkin dilakukan dengan penggalian password atau konfigurasi yang telah dibuang atau secara diam-diam memasang key-logger (yang dapat memberikan mereka informasi mengenai apa saja yang diketik di keyboard) ke dalam sistem. Untuk melakukan phisical attack, harus berada ditempat dimana informasi berada, sesuatu yang sangat mengurangi risiko menurut saya. Saya rasa tidak akan cukup banyak cracker dari New York akan menyewa pesawat jet menyeberangi samudera  untuk membajak network saya di Banjarmasin. Tipe serangan ini sedikit lebih sulit untuk diatasi tetapi jarang terjadi.</p>
<p>Social engineering attacks menggunakan pendekatan yang berbasis pada komunikasi dan interaksi. Dengan meyakinkan seseorang, melalui telpon atau bicara langsung, mereka bisa mendapatkan berbagai infomasi. Misalnya setelah menghubungi pusat layanan suatu  perusahaan dan berpura-pura menjadi seorang pegawai baru, mereka mungkin akan mendapat informasi nomer telpon untuk dial-up modem bank, bagaimana mengkonfigurasi software, dan memperkirakan kemampuan teknisi keamanan yang mengelola sistem untuk menghalangi usaha mereka. Serangan seperti ini dilakukan menggunakan telpon setelah riset yang mendalam terhadap target. Serangan jenis ini sangat sulit untuk diatasi terutama bagi perusahaan besar karena semua orang pada umumnya punya keinginan untuk saling membantu satu sama lain, padahal mereka tidak tahu apa maksud sebenarnya dari lawan bicaranya. Dan karena serangan ini menggunakan telpon, serangan ini seperti technical attack dapat dilakukan dari tempat manapun di dunia sepanjang ada jaringan telpon. Kombinasinya dapat juga dilakukan dengan menghubungkan sambungan telponnya melalui beberapa host untuk menyembunyikan lokasi mereka. </p>
<p>Saat crackers menggunakan kombinasi dari jenis-jenis serangan ini, it&#8217;s almost a game over (hanya beberapa orang paling paranoid yang bisa bertahan menghadapi mereka).</p>
<p align="center"><a><img src="http://www.fullandfree.info/wp-content/uploads/2007/09/rapid-hacker.jpg" maxwidth=400px></a></p>
<p>Sebenarnya, untuk melakukan suatu penyerangan tidaklah sesederhana seperti yang telah dipaparkan di atas. Kalau melihat difilm mungkin pekerjaan menjadi hacker atau cracker terlihat sangat keren, cepat, dan mudah dimana seseorang dapat membuat sebuah virus baru hanya dalam satu malam. Hal yang harus dipahami adalah untuk melakukan penyerangan diperlukan usaha yang benar-benar luar biasa dan jujur saja hanya mereka yang benar-benar termotivasi yang akan mengambil cara paling berisiko. Pada kenyataannya, cracker selalu dan paling menyukai &#8220;low hanging fruit&#8221;, cara yang memiliki risiko terkecil untuk hasil yang paling baik. Biasanya mereka bergerak sendiri atau dalam kelompok kecil. Mereka tidak punya bantuan dana dari pemerintah, tidak juga terhubung dengan organisasi kriminal dunia. Apa yang mereka miliki sebenarnya hanyalah waktu luang dan rasa ingin tahu yang sangat luar biasa ekstrim besar, dan percayalah jika saya katakan, hacking takes a lot of time. Bahkan hacker dan cracker terbaik pun akan mengatakan bahwa permainan sebenarnya ada pada ketahanan mental dan kekuatan motivasi.</p>
<p>Beberapa cracker terbaik mungkin akan perlu waktu berbulan-bulan hanya untuk satu exploit. Pada saat sepertinya pekerjaan akan selesai, exploit yang disiapkan mungkin kurang memadai atau bahkan tidak berfungsi sama sekali!!(oh, no!!) Membobol suatu situs juga memilki kendala yang sama. Cracker mungkin menghabiskan berminggu-minggu untuk footprinting (mengenali sistem) suatu situs, hanya untuk mengetahui bahwa tidak ada cara biasa yang bisa dilakukan, maka tidak ada pilihan kecuali kembali ke awal perencanaan. </p>
<p>Dalam film, sepertinya industri semisal Hollywood mencoba untuk menutupi fakta ini. Benar juga sih, siapa yang mau melihat hacker atau cracker melakukan riset dan tes terhadap bug selama berminggu-minggu? Ini bukan kegiatan menegangkan yang seru untuk ditonton seperti aksi perampokan bank, lagi pula hal seperti ini bukan hal yang umum dilihat oleh orang awam. Dalam film tentang hacker, sutradaranya sepertinya mencoba menyiasati hal ini dengan beberapa efek visual dan efek pergerakan waktu atau sejenisnya. Beberapa contoh film bertema hacker misalnya Swordfish dan War Games. Film War Games mungkin yang paling mendekati kenyataan secara garis besar. Dalam film ini tokoh utama melakukan riset yang mendalam terhadap targetnya, mencoba berbagai pendekatan untuk melakukan penyerangan, dan pada akhirnya ketahuan lalu dikejar.</p>
<p align="center"><a><img src="http://www.geocities.com/ian_abang/hacker.gif.png"></a></p>
<p>Sekarang pertanyaannya bagaimana jika&#8230;? Apa yang terjadi jika penyerangan dilakukan oleh orang yang benar-benar termotivasi dan benar-benar punya kemampuan? Apa yang akan terjadi jika mereka benar-benar punya keberanian dan keterampilan melakukan serangan yang fatal? hmm&#8230; bagaimana jika tiba-tiba sistem anda menjadi kacau.. atau situs anda diobok-obok.. atau email dan nomer telepon anda kebanjiran pesan sampai hank.. sepertinya anda harus ingat-ingat lagi, mungkin anda telah membuat kesal orang yang salah&#8230; hmm.. what if the target is.. you?</p>
<p>{inspirasi dari berbagai sumber yang tidak dapat disebutkan satu persatu}</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jurnalkampus.org/cracker-how-do-the-attackers-do-this/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hacker: Criminal vs Professional</title>
		<link>http://www.jurnalkampus.org/hacker-criminal-vs-professional/</link>
		<comments>http://www.jurnalkampus.org/hacker-criminal-vs-professional/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Feb 2009 18:40:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kopral</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalkampus.org/?p=144</guid>
		<description><![CDATA[Pernah mendengar istilah hacker? Saya yakin sebagian besar orang pernah mendengar istilah ini, atau mungkin anda adalah seorang hacker. Dalam sebagian besar pemberitaan media dan dalam persepsi yang berkembang, istilah hacker cenderung mengacu pada seorang kriminal. Ini memang tidak bisa dihindari karena banyaknya pemberitaan media mengenai kejahatan yang telah dilakukan seseorang yang memiliki kemampuan hacker. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pernah mendengar istilah hacker? Saya yakin sebagian besar orang pernah mendengar istilah ini, atau mungkin anda adalah seorang hacker. Dalam sebagian besar pemberitaan media dan dalam persepsi yang berkembang, istilah hacker cenderung mengacu pada seorang kriminal. Ini memang tidak bisa dihindari karena banyaknya pemberitaan media mengenai kejahatan yang telah dilakukan seseorang yang memiliki kemampuan hacker.</p>
<p align="center"><a><img src="http://skripsi-indonesia.com/images/2009/02/hacker.png"></a></p>
<p>Namun, apa arti sebenarnya dari istilah hacker dan siapa saja mereka sebenarnya, berbeda dengan pandangan umum yang telah ada. Kali ini saya akan sedikit mengulas mengenai hacker, berdasarkan pengalaman saya sendiri dan beberapa sumber lainnya. Dengan demikian, semoga sedikit tulisan ini dapat memberikan pemahaman dari sisi yang berbeda mengenai hacker; terlepas dari penilaian akhir anda yang tidak dapat saya protes tentunya.<br />
<span id="more-144"></span><br />
Dalam <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hacker">Wikipedia</a> disebutkan bahwa seorang hacker adalah orang yang mempelajari, menganalisa, dan bila menginginkan, dapat membuat, memodifikasi, bahkan mengeksploitasi sistem yang terdapat di sebuah piranti seperti software komputer dan hardware komputer, misalnya aplikasi, administrasi, dan hal-hal lainnya, terutama keamanan. Saya rekomendasikan <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Hacker">Wikipedia</a> karena situs ini memang telah umum digunakan. Anda tentu dapat mencari referensi lainnya yang bertebaran di segala penjuru internet, bukan masalah.</p>
<p>Pada awal penggunaan istilah hacker, pengertiannya berada dalam sisi yang positif. Sebutan Hacker diberikan pada mereka yang telah benar-benar ahli dalam program komputer dan sistem administrator. Jika anda memiliki masalah dengan sistem anda dan anda perlu memperbaikinya dengan segera, maka sebaiknya anda meminta bantuan seorang hacker yang kompeten. Mereka mungkin akan nge-hack source code untuk melakukan perbaikan karena mereka tahu sistem secara keseluruhan. Beberapa orang mungkin mengetahui perbedaan antar bagian tertentu dimana sistem bekerja, namun hacker punya pengetahuan menyeluruh bagaimana sistem bekerja sementara memperbaiki detail yang terkecil sekalipun.</p>
<p align="center"><a><img src="http://www.r6-yamaha.com/wp-content/uploads/2008/02/absolut_hacker.jpg"></a></p>
<p>Sejak kejahatan pembobolan komputer pertama, maka anggapan kurang menyenangkan pada hacker mulai terbentuk. Dari pada menggunakan istilah <i>criminal hacker</i>, media secara sederhana menyebut pelakunya dengan <i>hacker</i>. Tidak seharusnya seorang montir kriminal yang melakukan pencurian motor hanya disebutkan montir yang melakukannya, begitu juga dengan hacker. Para hacker menyebut mereka yang menggunakan kemampuannya untuk kejahatan dengan sebutan cracker dan tidak suka bergaul dengan mereka. Seorang HACKER SEJATI tidak akan pernah setuju jika seseorang baru bisa disebut hacker apabila telah dapat menembus suatu sistem keamanan. Dan sebagian besar hanya para Lamer yang sering menyombongkan diri di IRC channel dan sebagainya. Penegasan disini adalah mereka yang melakukan kejahatan itu adalah CRACKER bukan hacker.</p>
<p>Hacker sendiri memilki beberapa tingkatan, secara garis besar tentunya. Tingkatan teratas merupakan tempat terhormat bagi hacker teratas yang disebut elite hacker. Kalau di Indonesia mungkin lebih dikenal dengan sebutan &#8220;Suhu&#8221;. Mereka adalah orang yang diberkahi anugerah bakat alami dalam bidang sistem operasi yang sanggup mengkonfigurasi dan menyambung jaringan secara global. Mereka merupakan hacker yang terampil dan sangat efektif dan efisien dalam menggunakan pengetahuannya. Terlebih, mereka adalah ujung tombak industri keamanan jaringan.</p>
<p>Tingkatan berikutnya dapat disebut semi-elite. Biasanya, hacker kelas ini lebih muda dari para elite. Mereka juga punya banyak pengetahuan mengenai sistem operasi termasuk lubang keamanannya. Pada umumnya menggunakan sejumlah kecil program untuk mengubah program exploit. Kebanyakan serangan pembobolan yang dipublikasikan dilakukan oleh hacker tingkat ini. Dan sialnya dikalangan elite mereka sering dikategorikan sebagai lamer.</p>
<p>Tingkatan berikutnya dikenal dengan developed kiddie. Dari namanya tentu diketahui bahwa kelompok hacker ini merupakan para remaja yang kebanyakan masih sekolah. Mereka mungkin membaca dan mempelajari cara hacking dari buku dan mencoba praktek pada beberapa kesempatan. Karena kemampuannya terbatas, umumnya mereka hanya mengetahui lubang keamanan yang sudah ada tanpa dapat menemukan lubang keamanan baru. Selain itu, mereka masih menggunakan tools berbasis GUI (Graphical User Interface) dan baru menguasai basic dari UNIX. Sebutlah mereka ini adalah orang yang punya tools tapi bukan pengetahuannya.  Dari mereka ini ada kelompok yang mungkin lebih bisa disebut sebagai script kiddie, karena kebiasaan mereka menggunakan trojan dalam aktifitasnya.</p>
<p>Tingkatan dasar yaitu mereka yang disebut sebagai lamer. mereka adalah wanna be hacker, orang yang ingin jadi hacker dengan pengalaman dan pengetahuan yang sangat minimal. Pada umumnya tidak terlepas dari penggunaan trojan, nuke, atau DoS. Dalam perkembangannya mungkin kemampuan mereka hanya setingkat developed kiddies.</p>
<p align="center"><a><img src="http://cybernetnews.com/wp-content/uploads/2008/01/hacker-safe-friendly.jpg"></a></p>
<p>Dengan demikian saya rasa sudah cukup jelas bahwa hackers are good but crackers are not. Pandangan yang kurang baik terhadap sebutan hacker semestinya dapat dihindari, tentunya. Pada posting berikutnya <a href="http://www.jurnalkampus.org/hacker-criminal-vs-professional/">Cracker: How do the attackers do this?</a>, saya akan membicarakan betapa melelahkannya pekerjaan hacker, hmm&#8230;</p>
<p>{ inspirasi dari berbagai sumber yang tidak dapat disebutkan satu persatu }</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jurnalkampus.org/hacker-criminal-vs-professional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- www.000webhost.com Analytics Code -->
<script type="text/javascript" src="http://analytics.hosting24.com/count.php"></script>
<noscript><a href="http://www.hosting24.com/"><img src="http://analytics.hosting24.com/count.php" alt="web hosting" /></a></noscript>
<!-- End Of Analytics Code -->

