BEIJING, SELASA – Situasi tenaga kerja di China saat ini gawat menyusul banyaknya sejumlah perusahaan besar yang mengalami kesulitan. Akibatnya, sejumlah pekerja terpaksa kehilangan lapangan pekerjaan.

“Kondisi ketenagakerjaan di China mengalami situasi gawat sebagai dampak krisis keuangan global, sehingga banyak perusahaan mengurangi lapangan pekerjaan,” kata Menteri Sumber Daya Manusia dan Keamanan Sosial China, Yin Weimin, dalam keterangan pers, di Beijing, Selasa (10/3).

Hal tersebut dikemukakan di sela penyelenggaraan Sesi Kedua Kongres Rakyat Nasional (NPC) ke-11 dan Kongres Permusyawaratan Politik Rakyat China (NPC) ke-11 yang berlangsung di Gedung Balai Agung Rakyat.

Menurutnya, krisis keuangan global memiliki dampak yang sangat besar terhadap kondisi perekonomian China dan berdampak pula terhadap keberadaan sejumlah perusahaan yang terpaksa mengurangi kegiatan atau produksinya.

Maka dari itulah, banyak perusahaan terpaksa mengurangi pekerjanya yang pada akhirnya menimbulkan situasi tenaga kerja di China yang memasuki tahapan gawat.

Untuk menghadapi situasi gawat tersebut, kata Weimin, pemerintah China telah mengambil sejumlah upaya yang diharapkan bisa memberikan dampak efektif agar situasi tidak kian memburuk. “Dalam dua bulan pertama 2009, China kelihatanya sudah mulai menunjukkan perbaikan situasi tenaga kerja di beberapa kota,” katanya.

Jumlah tenaga kerja baru di China yang bisa diserap pada Januari dan Februari tahun ini sebesar 690 ribu orang dan 930 ribu orang, sementara pada November dan Desember 2008 masing-masing 550 ribu orang dan 380 ribu orang.

Pemerintah, katanya, akan memprioritaskan para pencari kerja yang baru lulus perguruan tinggi pada tahun ini.

Dirinya juga menegaskan bahwa para pencari kerja terutama lulusan perguruan tinggi hendaknya bersedia bekerja di wilayah pedesaan, di sejumlah perusahaan berskala kecil dan menengah, serta melakukan bisnis secara mandiri.

Weimin mengatakan bahwa China memiliki 6,11 juta mahasiswa perguruan tinggi yang tahun 2009 baru lulus dan sebanyak satu juta lainnya sejak tahun lalu masih mencari pekerjaan setelah mereka gagal mendapatkan pekerjaan pada 2008.

sumber: ruzh.blogspot.com