BASIS EKONOMI KALSEL = PERTANIAN


Beberapa waktu dekat yang lalu, kawan – kawan Jurnal Kampus berkesempatan mengadakan wawancara khusus dengan Gubernur Kalimantan Selatan, H. Rudy Arifin. Adapaun topik yang diwawancarai kepada  orang nomor satu Kalimantan Selatan ini  tiada lain adalah tentang gambaran ekonomi Kalimantan Selatan, termasuk komitmennya terhadap kesejahteraan ekonomi provinsi ini.

Mungkin beberapa masyarakat beranggapan bahwa poros ekonomi Kalimantan Selatan berbasis pada Pertambangan, seperti batubara. Padahal sebenarnya tidak demikian. Seperti yang dinyatakan oleh Gubernur  H. Rudy Arifin, bahwa sebenarnya basis ekonomi masyarakat Kalimantan Selatan terletak pada sektor pertanian.

Kondisi riil di masyarakat sebenarnya sektor pertanian masih mendominasi jumlah tenaga kerja masyarakat Kalimantan Selatan , yakni lebih dari 40% dan relatif mudah untuk memberdayakan pekerja di sektor pertanian tersebut namun yang menjadi kendala yakni manajemen pemasaran produk pertanian.

Dewasa ini, dan terlebih lagi di masa yang akan datang, orientasi sektor pertanian telah berubah kepada orientasi pasar. Dengan berlangsungnya perubahan preferensi konsumen yang makin menuntut atribut produk yang lebih rinci dan lengkap serta adanya preferensi konsumen akan produk olahan, maka motor penggerak sektor pertanian harus berubah dari usahatani tradisional menuju pertanian yang modern. Dalam hal ini, untuk mengembangkan sektor pertanian yang moderen dan berdaya saing, agroindustri harus menjadi lokomotif dan sekaligus penentu kegiatan sub-sektor usahatani dan selanjutnya akan menentukan sub-sektor agribisnis hulu.

Pemerintah memang telah bekerja keras untuk membangun sektor pertanian. Berbagai pendekatan pembangunan sektor pertanian telah dicoba seperti pembangunan pertanian terpadu, pembangunan pertanian berwawasan lingkungan, dan pembangunan pertanian berwawasan agroindustri. Kalau diperhatikan secara baik maka upaya pendekatan pembangunan pertanian pada dasarnya berupaya untuk:

1. tetap menjaga dan memperhatikan prinsip keunggulan komparatif sehingga produk pertanian mampu berkompetisi;

2. terus meningkatkan keterampilan petani (masyarakat tani) sehingga mampu meningkatkan produktivitas pertanian;

3. terus mengupayakan sarana produksi yang mencukupi setiap saat diperlukan dengan tingkat harga yang terjangkau;

4. menyediakan dan meningkatkan fasilitas kredit bagi petani guna proses produksinya;

5. Penyediaan infrastruktur dan institusi/kelembagaan yang dapat meningkatkan nilai tambah hasil produksi pertanian.