SAJAK SEORANG TUA DI BAWAH POHON
Oleh : Muhammad Elhami
Inilah sajakku
Seorang tua yang berdiri dibawah pohon meranggas
Dengan kedua tangan yang ku gendong dibelakang
Dan rokok kretek yang padam dimulutku
Aku memandang zaman
Aku melihat gambaran ekonomi
Do toko yang penuh dengan merek asing
Dan jalan-jalan bobrok antar desa
Yang tak memungkinkan pergaulan
Aku melihat penggarungan dan pembusukan
Aku meludah diatas tanah
Aku berdiri dimuka kantor polisi
Aku melihat wajah berdarah wajah demonstran
Aku melihat kekerasan tanpa undang-undang
Dan sebuah jalan panjang
Penuh debu
Penuh kucing-kucing liar
Penuh anak-anak yang berkudis
Penuh sersadu-sersadu jelek dan menakutkan
Aku berjalan menempuh matahari
Menyusuri jalan sejarah pembangunan
Aku mendengar orang berkata
Hak asasi manusia tidak sama dimana-mana
Disini, demi iklim pembangunan yang baik
Kemerdekaan berpolitik harus dibatasi
Mengatasi kemiskinan
Meminta pengorbanan sedikit hak asasi
Astaga, tahi kerbo apa ini !
Apa disangka kentut bisa mengganti rasa keadilan
Dinegeri ini hak asasi dikurangi
Justru untuk membela yang mampu dan kaya
Buruh, tani, nelayan, wartawan, dan mahasiswa
Dibikin tak berdaya
Ooo..kepalsuan yang diberhalakan
Berapa jauh akan bisa kau lawan kenyataan hidup
Aku mendengar bising kendaraan
Aku mendengar pengadilan sandiwara
Aku mendengar warta berita
Ada gerilya dikota
Seorang yang gigih melawan buruh
Telah diculik dan dibunuh
Oleh golongan orang-orang yang marah
Aku menatap senja kala di pelabuhan
Kakiku ngilu
Dan rokok ditanganku padam lagi
Aku melihat darah dilangit
Ya..ya..kekerasan mulai mempesona orang
Yang berkuasa serba menekan
Yang marah mulai mengeluarkan senjata
Bajingan dilawan secara bajingan
Yaa ! inilah kini kemungkinan yang mulai menggoda orang
Bila pengadilan tidak bertindak bajingan resmi
Maka bajingan jalanan yang akan mengadili
Lalu apa kata nurani kemanusiaan ?…
Siapakah yang menciptakan keadaan darurat ini ?…
Apakah orang harus meneladani tingkah laku bajingan resmi ?…
Apa kata nurani kemanusiaan ?…
Ooo..senjakala yang menyala
Singkat tapi menggetarkan hati
Lalu sebentar lagi orang akan mencari bulan dan bintang-bintang
Ooo..gambaran-gambaran yang fana
Karna langit dibadan tak berhawa
Dan langit diluar dilabur bias senjakala
Maka nurani di bius tipudaya
Yaa! Yaa! Akulah seorang tua
Yang capek tapi belum menyerah pada mati
Kini aku berdiri diperempat jalan
Aku merasa tubuhku sudah menjadi anjing
Tetapi jiwaku mencoba menulis sajak sebagai seorang manusia





