Bagian 1 dari 2 artikel
Bagian 2 dari 2 artikel

“..buku sebagai media informasi nondigital, yang tidak up to date, tidak interaktif, tidak kolaboratif, tidaklah lagi cocok di era informasi dan sebaiknya minggir.”

Sejak kecil kita telah dikenalkan dengan buku sebagai media informasi dan bahan belajar terutama di sekolah. Bahkan, saat kuliah pun sebagian di antara para dosen masih punya kepercayaan untuk “memaksa” mahasiswa memilki buku “wajib” mata kuliah tertentu dan menganggap buku adalah sumber informasi utama. Dan pada akhirnya kepercayaan inilah yang terus dijejalkan pada generasi berikutnya, termasuk pada saya dan kemungkinan besar anda juga terpengaruh oleh kepercayaan ini.

Tapi kini saya tidak lagi percaya bahwa buku adalah media informasi yang utama. Nyaris seluruh informasi yang saya dapat saat ini dari internet: Google, Wikipedia, manual online, milis dan forum, blog, serta website berita. Kalau dibandingkan dengan media lain di era digital ini, buku adalah salah satu yang paling jadul, paling mahal, dan paling memiliki berbagai kekurangan. Pun rasanya tidak terlalu berlebihan jika saat ini saya mengatakan keberadaan buku cepat atau lambat akan punah. Berikut adalah beberapa pemikiran mengenai keberadaan buku di masa depan.

SEMUA AKAN MENJADI E-BUKU. Benar sekali, hanya e-Buku yang akan beredar di masa depan. Dengan mengubah distribusi buku fisik menjadi elektronik setidaknya akan menurunkan sebagian besar kekurangan buku. Harga buku seharusnya turun antara 20% – 25% saat menjadi e-Buku karena memang kira-kira segitulah porsi untuk biaya percetakan. Selain itu tidak ada lagi biaya dan efek samping dari penggunaan kertas. Para pecinta lingkungan tentunya bisa lebih lega karena untuk di Amerika Serikat saja setidaknya 20 juta pohon akan dapat diselamatkan (atau setidaknya digunakan untuk keperluan yang lebih penting) seandainya 3 milyaran buku tidak perlu lagi dicetak setiap tahunnya. Dan yang lebih terutama kita terbebas dari keharusan untuk membawa dan menyimpan buku yang memakan tempat dan sangat berat itu. Sampai beberapa bulan lalu saat kuliah saya masih punya keteguhan hati untuk membawa buku “wajib” perkuliahan yang 2-3 buku saja sudah mencapai 1 kg lebih. Tapi pada akhirnya bukannya mendapat nilai tinggi, malah semangat untuk belajar menjadi turun (melihat bukunya saja sudah merasa tidak nyaman, bolak-balik kuliah sambil angkat beban juga sangat melelahkan dan repot). Saat akhirnya e-Buku telah menyadarkan kita semua, maka di masa depan tentunya saya, anda, dan semua orang akan melepas berkarung-karung buku yang berat dan sebagian besar hanya menjadi pajangan yang memakan tempat karena isinya telah usang.

SEMUA ORANG HANYA AKAN MEMBACA RINGKASAN SAJA. Pada masa sekarang ini rata-rata orang sudah tidak punya waktu lagi untuk membaca lebih dari satu buku perminggu atau bahkan perbulan. Di masa depan hal seperti ini akan semakin parah karena jumlah dan jenis kegiatan yang harus dilakukan juga semakin beragam. Dan tentunya akan banyak media lain yang berkembang untuk untuk menyaingi keberadaan buku, sementara waktu yang ada hanya 24 jam sehari. Banyak buku, terutama buku bisnis praktis yang sebetulnya intinya hanya satu halaman tapi diperpanjang menjadi 200 halaman. Karena keterbatasan waktu ini, di masa depan kegiatan membaca buku akan semakin tergantikan oleh cukup membaca selama 5 – 30 menit website yang isinya ringkasan buku.

SEMUANYA AKAN MENJADI INTERAKTIF. E-Buku saat ini telah memberikan kelebihan seperti dapat di search, disalin gratis, dan dapat disimpan tanpa makan tempat. Di antara berbagai kelebihannya tersebut, e-Buku saat ini tetap memiliki kekurangan: bentuknya masih segitu-gitu saja, statik. E-Buku di masa depan seharusnya mengikuti transisi web yang telah bergeser dari statik ke dinamik yaitu lebih interaktif. Misalnya, kita dapat langsung mengirim komentar atau pertanyaan kepada penulis hanya dengan meng-klik tombol pada e-Buku, ada tes interaktif untuk menguji pemahaman pembaca, ada grafik atau tabel yang bisa disortir, difilter, atau dibolak-balik.

SEMUANYA AKAN MENJADI KOLABORATIF. Di masa depan akan semakin banyak karya yang dihasilkan secara kolektif. Bukan masanya lagi sebuah karya besar hanya dihasilkan oleh satu otak saja. Dua kepala lebih baik dari pada satu (lebih banyak lebih baik lagi tentunya). Software open source telah membuktikan keunggulan ini, dan e-Buku pun akan menyusul. E-Buku yang layak baca dan berpengaruh (kecuali fiksi), umumnya nanti merupakan hasil kerjasama beberapa penulis (a la Wikipedia), dan bukan lagi penulis tunggal.

Tentu saja setiap perubahan memerlukan waktu. Apa pun kemungkinan yang bisa terjadi di masa depan, saat ini bukanlah masa depan. Begitu pula untuk mencapai tingkat perubahan yang lebih baik memerlukan penunjang yang memadai. Industri besar buku, percetakan, dan penerbitan tradisional perlu waktu lama untuk berubah. Akses ke laptop dan internet terutama bagi anak-anak dan kalangan bawah masih belum merata. Tapi, walau bagaimanapun ini hanya masalah waktu. Seleksi alam pada akhirnya akan menyingkirkan media yang sudah tidak kompetitif ini.

Ho..ho.. bagaimana dengan pendapat anda mengenai keberadaan buku di masa depan? saya jadi penasaran dan menantikan komentar anda.. Pada bagian 2 dari artikel ini saya akan mengungkapkan sesuatu yang lebih revolusioner tentang visi mengenai masa depan!

[ inspirasi dari Steven Haryanto (analis system dan pemerhati security) dalam artikelnya di PC Media ]