Bagian 1 dari 2 artikel
Bagian 2 dari 2 artikel

Beberapa dekade terakhir banyak diramaikan oleh berbagai kemajuan dan revolusi dalam bidang telekomunikasi. Setelah kehidupan manusia dimanjakan dengan internet berkecepatan tinggi, kira-kira apa lagi revolusi berikutnya?

Saat ini dengan menggunakan bantuan GPS, ponsel, dan internet, kehidupan kita menjadi sangat kolaboratif. Dengan sangat nyaman kita dapat memanfaatkan ingatan maupun kecerdasan kolaboratif. Pemanfaatan GPS misalnya telah mengalihkan pengetahuan geografis dari otak sendiri ke satelit. Ingatan otak pun telah dialihkan, tidak perlu mengingat apa-apa lagi, sudah ada ponsel pintar, layanan kalender dan kontak web, Google, dan Wikipedia. Kalau bisa diibaratkan, kita adalah satu titik dalam jaringan cluster raksasa, sebuah core inti dalam processor multicore besar. Kemampuan per-individu kita memang tidaklah besar, namun kita adalah bagian dari komunitas raksasa yang sangat ampuh.

Di sisi lain, jika komunikasi antar titik dalam jaringan sudah cukup cepat dan efisien (murah), maka cara yang tersisa untuk meningkatkan kemampuan jaringan keseluruhan adalah peningkatan kemampuan titik itu sendiri.


Sepanjang sejarah manusia, belum banyak kemajuan drastis yang didapat otak dari kemajuan teknologi. Kemampuan otak kita untuk membaca, mendengar, menyerap informasi tetap segitu-gitu saja. Manusia dewasa rata-rata mampu membaca 250-300 kata pemenit. Kecepatan pendengaran maksimum sekitar 400 kata permenit. Kecepatan menulis/mengetik antara 25-100 kata permenit. Walaupun ada teknik membaca cepat misalnya, hanya bisa meningkatkan ini hingga 2-3 kali saja.

Akibatnya, walaupun sambungan internet kita mampu nge-download banyak buku dalam semenit, faktanya paling hanya dua buku yang dapat kita nikmati dalam satu minggu. Meskipun komputer kita mampu memutar 10 film MPEG4 sekaligus secara paralel dengan kecepatan tinggi, faktanya hanya 1 film yang dapat kita nikmati dengan kecepatan tidak jauh dari normal (1x).

Di sinilah ketimpangan telah terjadi, dan melahirkan sebuah visi untuk masa depan. Sebuah revolusi besar berikutnya setelah internet adalah peningkatan kemampuan otak secara individual, sebuah OTAK SUPER. Bila internet membuat jaringan dapat meningkatkan kecepatan antar titik dalam berbagi informasi, maka otak super akan meningkatkan kemampuan sebuah titik tunggal untuk memproses informasi. Bayangkan bila anda dapat membaca buku dalam hitungan detik. Atau misalnya meng-upload bahan kuliah ke otak anda sebelum tidur, sehingga ketika anda bangun esok hari tahu-tahu anda sudah menguasai materi tersebut. Pikirkan jika penyimpanan data dapat di hubungkan ke otak sehingga anda dapat membawa seluruh koleksi CD, DVD, atau ensiklopedia (ho..ho.. pernah terpikir perpustakaan berjalan yang sesungguhnya). Jika belum cukup, bayangkan jika dapat memilki otak fotografis dan menjepret/merekam dengan mata anda.

Tentu saja jika melihat perkembangan teknologi saat ini, visi tentang sebuah otak super masih akan datang jauh dibanyak tahun yang akan datang. Namun, ini bukan kemustahilan karena semua hal besar tentulah bermula dari mimpi dan harapan. Waktu akan menjawab bahwa visi seperti ini akan menjadi nyata, dan semoga kita masih hidup untuk menyaksikannya.

[ inspirasi dari Steven Haryanto (analis system dan pemerhati security) dalam artikelnya di PC Media ]